Showing posts with label papadaan. Show all posts
Showing posts with label papadaan. Show all posts

Wednesday, October 27, 2010

Sedekah sambil berharap... Bolehkah ????

Persoalan meminta sama Allah itu bukan persoalan ikhlas atau tidak ikhlas. Itu persoalan ibadah. Meminta adalah do’a. Silahkan saja sedekah tanpa berharap. Tapi kalau sedekah sambil berharap, maka dapat dua ibadah; pahala sedekah dan pahala berharap. Namun kita tidak boleh memaksa, hanya boleh meminta dan berharap.

Dan bukanlah disebut meminta dan berharap, kecuali yakin bahwa apa yang diminta dan yang diharap adalah bisa dikabulkan. Ilmu penyertanya adalah sabar, tawakkal, juga ikhlas. Termasuk ikhlas bila Allah tidak mengabulkan. Husnudzan kepada Allah adalah seninya. Yakinlah Allah Maha Tahu apa yang terbaik.

Sementara itu, mengikuti seruan-Nya, percaya akan janji-Nya; yang akan mengganti 2x, 10x, 700x, lebih banyak lagi, atau mengganti dengan yang lebih baik, adalah juga sebuah keutamaan. Tauhid itu. Percaya sekali sama Allah.

Saking percayanya ya kita ikuti seruannya. Dan apa sebutannya kalo bukan ikhlas juga? Nyari duit setengah mati, tiba-tiba ketika datang tawaran bersedekah dari Allah dengan janji akan dilipatgandakan-Nya, lalu kita percaya? Hingga kita menyerahkan semuanya? Apa gak di sebut ikhlas tuh? Bahwa kemudian jangan meminta hanya dunia, itu betul.

Minta juga ampunan-Nya, keselamatan dari-Nya, kasih sayang-Nya, bisa hafal qur’an, bisa istiqomah, bisa tambah sehat. Pengetahuan akan ilmu konversi juga penting. Sesiapa yang sedekah 1 di kali 10. Lalu sepuluhnya gak dapet, pertanyaannya: benarkah gak dapat? Apakah itu dikarenakan bodohnya kita?

Sesungguhnya Allah sudah membalas. Hanya balasannya kita gak paham hingga bertambah ilmu kita dan hikmah. Juga ketika kita baik sangka. Subhanallah, betapa rahasia ilmu Allah itu luas sekali. Belum lagi kalau bicara bahwa ternyata bayaran Allah itu terus dan terus. Kita anggap udah gak akan dibayar lagi. Ternyata setelah kita malah lupa sama do’a kita, eh Allah tetep kabulkan. Rupanya, “panen” pertama, bukan ke apa yang kita minta. Sementara kita bersabar, rupanya tanaman kita panen yang kedua, ketiga, dan seterusnya hingga sampailah pada apa yang kita minta.

Waba’du, meminta kepada Allah, tidaklah salah. Demikian juga berharap dari-Nya. Gak sedekah aja, boleh meminta, boleh berharap. Apalagi dengan bersedekah, tambah boleh meminta, tambah boleh berharap.

Sesiapa yang berdo’a dengan amal soleh sebagai pendahuluannya, jelas akan lebih bertenaga do’anya. Dan amal soleh itu banyak, sedekah adalah hanya salah satunya. Begitupun do’a. Do’a akan menjadi pendorong yang hebat buat sedekah.

Jangan hanya bersedekah. Tapi juga berdo’a. Di rawat itu sedekah dengan do’a. Jangan ditinggal begitu saja. Meskipun saya yakin, seperti biji cabe, yang di aurin (dibiarin) aja dia tumbuh, namun jika dirawat, dikawal, hingga ia tumbuh banyak dan bagus, adalah sebuah keutamaan yang lain adanya. Selamat menuntut ilmu terus, terus, dan terus. Hingga sampai kepada hikmah yang kita mintakan dari Allah datangnya. Amin.

Emang juga diam aja Allah udah akan aturin. Tapi kita ga dapet pahala do’a. bahkan do’a itu kepalanya ibadah. Jika ibadah, ibadah doangan, kaga berdo’a, maka kita hanya ampe leher. Itu ibadah ga ada kepalanya. Dengan berdo’a, itu menyatakan kelemahan kita juga di hadapan Allah Yang Begitu Kuasa. Sekaligus pernyataan-pernyataan menghamba, penuh harap, menjadikan Allah sandaran, dan lain-lain. Masya Allah dah. Rugi mereka yang ga mau berdo’a. Sedang do’a sendiri adalah sebuah ibadah tersendiri.

Dan bahkan do’a adalah perintah Gusti Allah langsung. Ayat-ayat tentang do’a tidak hanya di satu ayat. Tapi di banyak ayat. Dan tidak ada do’a yang tidak dikabulkan kecuali ia menjadi pengampunan buat yang berdo’a, menjadi penolak bala, dan disimpan sebagai kebaikan yang lain dari hal yang tidak diminta. Nah, apakah yang tidak berdo’a bakalan dapat keistimewaan yang berdo’a? tentu saja tidak. Alhamdulillah.

Yusuf Mansur


NB : Ini merupakan jawaban dari Ustd Yusuf Mansur kepada seorang jamaah. semoga bermanfaat

Sedekah VS Riya

KETIKA ANDA MENUDUH ORANG LAIN RIYA

Satu hal yang ingin saya sampaikan kepada Anda yang suka menuduh-nuduh orang lain itu riya, ujub, dan sombong. Tolong simak baik-baik. Ketika Anda membeli dan memakai arloji mahal, mungkin Anda berniat untuk pamer. Padahal orang tertentu membeli dan memakai arloji mahal semata-mata karena ia memang menyukai arloji tersebut. Jadi, jangan buru-buru menyamakan sifat Anda dengan sifat seseorang.

Ketika Anda bersedekah banyak terang-terangan, mungkin Anda berniat untuk pamer. Padahal orang tertentu bersedekah banyak terang-terangan, semata-mata karena ia ingin menyemangati orang lain. Jadi, jangan buru-buru menyamakan sifat Anda dengan dengan sifat seseorang. Lebih baik, luruskan niat Anda dan berbaik-sangkalah terhadap orang lain. Lebih baik lagi, Anda doakan orang lain agar tetap lurus niatnya. Iya tho?

Tolong juga digarisbawahi:

- Yang Maha Kuasa membolehkan bersedekah terang-terangan (QS 35: 29).

- Sedekah terang-terangan dapat menjadi syiar agama, layaknya ibadah yang lain seperti sholat dan haji.

- Sebagian sahabat Sang Nabi sengaja bersedekah terang-terangan, dengan tujuan untuk menyemangati sahabat lainnya.

- Kadang Ustadz Yusuf Mansur, Ustadz Lihan, Aa Gym, dan Ary Ginanjar sengaja bersedekah terang-terangan, dengan tujuan untuk menyemangati peserta.

- Sebagian motivator mengilhami peserta dengan menunjukkan seberapa banyak harta yang ia miliki. Motivator yang lain mengilhami peserta dengan menunjukkan seberapa banyak harta yang ia sedekahkan. Semua niatnya baik. Hanya saja, caranya yang berbeda.

Teruslah mengajak orang-orang bersedekah. Dan jangan pernah Anda pusingkan pendapat orang lain yang menuduh Anda riya, ujub, dan sombong. Ah, sejak kapan dia jadi malaikat? Tahu dari mana dia, isi hati Anda?

Menurut saya, akan jauh lebih baik Anda:

- lupakan malaikat gadungan itu

- luruskan niat

- teruslah bersedekah

- teruslah mengajak orang-orang untuk bersedekah

Yang Kaya Yang Bersedekah

"Tunjukkan saja jalan arah ke Pasar" jawab Abdurrahman Bin Auf ketika dia diberikan sebagian harta dari saudara Ansharnya sewaktu pertama datang Hijrah ke Madinah mengikuti Rasulullah.

Abdurrahman Bin Auf menolak hibah harta dari saudaranya dan memilih berdagang di Pasar Madinah. Memang beliau terkenal sebagai Entrepreneur bertangan Midas, mengubah apapun yang disentuh menjadi emas. Kata Abdurrahman, "Sejak Rasulullah mendoakanku, dunia datang menghadap kepadaku (hidupku makmur dan bahagia). Hingga seandainya aku angkat sebuah batu, maka dibawahnya kudapati emas dan perak."

Abdurrahman bin Auf termasuk kelompok delapan yang mula-mula masuk Islam, termasuk kelompok sepuluh yang diberi kabar gembira oleh Rasulullah masuk surga, dan seseorang yang dipercayai Rasulullah saw. untuk berfatwa di Madinah selagi beliau masih hidup di tengah-tengah masyarakat kaum muslimin.

Sebagai seorang Entrepreneur sukses, ternyata rahasianya ada di SEDEKAH, berikut sedekah Abdurrahman bin Auf yang Fenomenal ;

- Menyedekahkan iring-iringan tujuh ratus ekor unta bermuatan penuh membawa pangan, sandang serta lainnya untuk penduduk Madinah. - Menyedekahkan 40.000 dirham perak. 1 Dirham = Sekitar Rp.1,4 Milyar - Kemudian menyusul pula 40.000 dinar emas. = sekitar Rp.48.Milyar - Sesudah itu dia bersedekah lagi 200 uqiyah emas. - 500 ekor kuda kepada para tentara Islam - 1.500 ekor unta - Memberikan 400 dinar emas kepada 100 orang bekas pejuang Perang Badar. +/- Rp.480 Juta

Dan cukup banyak lagi diriwayatkan bahwa Abdurrahman Bin Auf bersedekah seperti tidak takut miskin.

Saturday, January 23, 2010

Apa Itu PapaDaan ??


Papadaan artinya adalah kawan dekat, kawan yang sering bertemu, atau masih ada hubungan keluarga. Papadaan berasal dari bahasa Banjar (Kalimantan Selatanl).
Papadaan dirasakan berorientasi pada sifat "Damai" . Ada nilai-nilai solidaritas yang sangat luas disana, simaklah contoh pada kalimat ini : "Bubuhan Ikam bubuhanku, bubuhan inya bubuhanku jua. Jadi, kita sabarataan Papadaan".
Ketika kita semua papadaan, maka permasalahan pun dapat dihadapi dan diselesaikan bersama tanpa ada yang lebih benar, lebih hebat, ataupun lebih kuat. Nilai Papadaan menjadi jalan damai. jalan damai yang memberikan kebenaran. jalan damai yang membawa persaudaraan. Papadaan punya nilai solidaritas tinggi, proaktif dan produktif.
Papadaan lebih fleksibel dan berspektrum luas.

Berdasarkan dari nilai arti Papadaan inilah menjadi sebuah kekuatan untuk masyrakat Inhil-Tembilahan yang secara umum dapat dikatakan ber suku Banjar untuk membangun Negeri Sri Gemilang Tembilahan..
Papadaan Adalah Nafas Kehidupan Tentang Ketentraman dan Kedamaian, di Tanah Berkah Negri Sri Gemilang Tembilahan.